Home » Lingkungan » Warga Berpengetahuan, Berdaya, dan Tangguh Bencana

Warga Berpengetahuan, Berdaya, dan Tangguh Bencana

Siapapun pasti akan panik malam itu. Saat jelang tengah malam tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan bruukkk…. Benar, tebing setinggi lebih dari 10 meter disertai pepohonan roboh dan menimbun dua rumah, 3 korban tertindih reruntuhan. Kamis malam (20/06/2013) geger melanda Desa Pilangrejo Kecamatan Nglipar Kabupaten Gunungkidul DI Yogyakarta. Setelah hujan mengguyur dengan intensitas tinggi, bencana longsor terjadi di 3 dusun, 6 rumah roboh dengan korban 3 orang. Segenap warga desa terhenyak mendengar kabar bencana menimpa desa mereka.

Kini setelah 4 bulan bencana itu berlalu, kontributor GdHE, Hernindya Wisnuadji ingin melihat kabar terbaru Desa Pilangrejo, sebuah desa dengan perbukitan tinggi di arah utara Wonosari, Ibu Kota Kabupaten Gunungkidul.

Butuh waktu sekira 45 menit untuk menjangkau Desa Pilangrejo dengan sepeda motor dari Kota Wonosari. Setelah ikuti jalan Nglipar – Ngawen dan ambil jalan ke kiri, mulailah deru motor meringkik ikuti jalan beton yang terus menanjak dan berkelok. Ada sebutan “ Jalur S” di mana pengendara harus berikan kewaspadaan tinggi yang berada di pertengahan perjalanan mendaki bukit Pilangrejo ini. Angin berhembus semakin kencang yang menandakan posisi yang jauh dari lembah.

Di tengah tanjakan terjal yang untuk kesekian kalinya, saya jumpai beberapa kelompok warga yang sedang memecah bongkahan batu. Ada kelompok yang meggali, ada kelompok yang mengangkat, ada kelompok yang memecah menjadi lebih kecil, ada pula kelompok yang menata menjadi barisan batu. Saya berinisiatif untuk berhenti sejenak, maksud hati juga ingin menanyakan alamat yang akan dituju. Saya mendapat jawaban dari  sekelumit dialog dengan seorang bapak yang berdiri terdekat dengan jalan dan kemudian mengajaku mampir di rumahnya, kamipun duduk bersama di semacam bale-bale di depan rumah. Dari bale-bale itu kami bisa liat pegunungan seribu di sisi selatan dan timur serta Kota Wonosari nun jauh di bawah sana. Alunan bunyi tak tik tak tuk pertemuan besi dan bantu menjadi suara latar dari obrolan kami.

Bencana Longsor dalam Perspektif Warga

Hidup turun temurun di lereng perbukitan Pilangrejo adalah fakta kesejarahan warga dusun Ngangkruk. Dusun yang berada di atas 700 m dpl ini dihuni oleh 98 KK. Sumadi (50), seorang tokoh dusun, saya ajak diskusi tentang bencana yang terjadi 4 bulan yang lalu. Sumadi bertutur bahwa penyebab longsor adalah karena bagian bawah lereng dibuka untuk memperluas lahan di sekitar rumah. Lahan tersebut biasanya untuk pekarangan ataupun pertanian. Aktivitas tersebut adalah hal jamak yang dilakukan oleh warga untuk memperluas hamparan. Hamparan baru dari pembukaan dasar lereng perbukitan ini pun banyak dilakukan di lokasi yang jauh dari pemukiman. Hal ini dilakukan untuk memperluas lahan pertanian. Penyebab bencana longsor bulan Juni kemaren adalah aktivitas pembukaan dasar lengser tersebut. Kerentanan meningkat karena intensitas hujan yang tinggi saat itu.

Antara ketidakinginan ulangi kepanikan atas bencana longsor yang lalu dan kebutuhan membuka dasar lereng dengan segenap alasannya, mungkin menjadi butiran pendulum Maju Kena Mundur Kena . Diskusi dengan Ayah dari Koordinator Organisasi Sadar Lingkungan (DarLing), Bilal, ini makin menghangat.

Pemukiman warga yang memanjat lereng bukit

Pemukiman warga yang memanjat lereng bukit

Bermukim di lereng perbukitan memang bergantung pada hamparan yang sempit di dasar lereng-lereng. Itupun harus berbagi untuk pemukiman dan untuk pertanian atau perkebunan. Bertambahnya jumlah penduduk lahirkan konsekuensi kebutuhan luasan pemukiman dan tentunya lahan pertanian. Alampun kemudian menjadi bagian dari konsekuensi itu. Melahirkan kerentanan baru di depan mata nampaknya menjadi bagian kehidupan warga. Ada hal lainnya yang tidak kalah berat untuk jadi tantangan bagi warga. Warga kehilangan 6 sumber mata air dari 8 buah yang sebelumnya ada dan tiap hari tidak kurang satu rit kayu glondongan keluar dari dusun yang hanya miliki luasan sekira 200 Ha ini. Banyak pohon – pohon besar ditebang karena alasan ekonomi. Tantangan berat ini meningkat eskalasinya tiga tahun terakhir. Saya menangkap kekhawatiran yang dalam dari raut wajah Pak Sumadi.

Dalam Kehidupan ada Pembelajaran

Adalah sekelompok anak muda Dusun Ngangkruk, yang berhasil memperkenalkan sebuah gerakan warga. Organisasi Sadar Lingkungan (DarLing) terbentuk pada tahun 2008 memang beranggotakan mayoritas pelajar, namun lembaga ini mampu tampil memberikan visi baru bagi wilayahnya. Berbekal cerita-cerita dari orangtua terkait inisiatif-inisiatif lokal dalam melestarikan lingkungan, mereka mengkonsolidasikan diri. Mulai mambuat Kebun Bibit Desa, menyelamatkan lahan kritis, hingga berkreasi untuk peningkatan kesejahteraan warga.

DarLing miliki modal sosial luar biasa. Warga Ngangkruk dikenal sebagai komunitas pekerja keras dan miliki semangat gotong royong yang tinggi. Apresiasi atas modal sosial ini pernah hingga Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Pakualam IX kunjungi desa mereka. Relasi dengan banyak pihak mereka jalin untuk kembangkan wilayah mereka. DarLing menjadi komunitas yang berproses dari komunitas berpengetahuan menjadi komunitas yang berdaya. Geliat komunitas ini pun mampu dapatkan simpati institusi pendidikan SMKN 1 Nglipar yang menjadikan DarLing menjadi mitra pengembangan isu lingkungan. Tak kurang 7 kali sekolah yang beralamat di Desa Pilangrejo ini melakukan kunjungan lingkungan ke Dusun Ngangkruk dengan mengajak ratusan siswanya. Kunjungan lingkungan ini telah membentuk sebuah model relasi sekolah dan lingkungan sekitarnya.

Tantangan baru lahir dari terbukanya jaringan dengan banyak pihak. Komunitas Dusun Ngangkruk miliki proses mengelola relasi dengan banyak pihak yang acap kali melawan nalar ekologi yang telah mulai mengakar kuat di warga. Sumadi sampaikan kekhawatirannya terkait kurang terkoordinasinya antar dinas dalam implementasi program di lapangan. Warga pernah miliki proses kehilangan potensi panen produk pertanian hingga 7 karung dari 10 karung tiap kali panen akibat “layani” proyek Dinas Kehutanan yang menggeser lahan pertanian. Euphoria pembangunan fisik berupa jalan memberikan dampak harga jual kayu, fenomena baru yang menjadikan mimpi mendapatkan uang besar dari kayu telah tiba. Euphoria motor murah menjadikan bencana konsumtif baru yang mengancam hutan rakyat. Tubrukan kepentingan yang semacam ini yang semakin mendewasakan komunitas untuk mensingkronkan segenap dukungan para pihak dengan visi lingkungan yang mereka miliki. Kemampuan dalam sinkronisasi visi ini juga menuntun komunitas dalam mengurangi kerentanan warga.

Gotong Royong yang ber-visi ekologi

Gotong Royong yang ber-visi ekologi

Kebutuhan untuk membuka lahan baru selalu dibarengi dengan kegiatan ekologi yang memadai. Pelestarian sumber mata air dilakukan dengan reboisasi tanaman yang ramah lingkungan dan perlakukan ekologi lainnya. Peningkatan ketrampilan pengelolaan kayu juga telah membuat Ngangkruk popular sebagai penyuplai doran (tangkai pacul) ke banyak daerah. Ketrampilan ini diyakini menekan laju penebangan pohon yang signifikan. Kini peluang usaha mereka akan mulai merambah sektor kerajinan kayu untuk souvenir. Sebuah lompatan budaya dalam mengembangkan mata pencaharian. Usaha keluarga dengan mekanisme spiral juga menjadi desain kelembagaan yang mengikat keseluruhan anggota dimana levelisasi usaha dengan jenjang pemenuhan kebutuhan terbukti ampuh menjadikan kayu sebagai asset yang paling berharga dan paling terakhir untuk dilepas.

Melanjutkan kehidupan bisa jadi akan meningkatkan kerentanan bagi mereka. Ancaman longsor tidak akan pernah hilang dari keseharian mereka, namun berpengetahuan dan menjadi berdaya akan menggembleng warga menjadi tangguh bencana.

Hernindya Wisnuadji, Kontributor GdHE
Liputan ini juga dikemas dalam bentuk audio oleh Sularno dan disiarkan di Hanacaraka FM, Argosari Radioline, dan Radekka FM
Liputan @DRRGunungkidul

Berikan rating: 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)

Tentang Hernindya Wisnuadji

Pegiat inovasi desa. Pecinta branding komunitas. Memulai kegiatan community enpowerment sejak 1998 dan berkesempatan belajar audit sosial di Hyderabad, India tahun 2011.