Home » Lingkungan » Stop Eksploitasi Karst Gunungkidul
Stop Eksploitasi Karst Gunungkidul

Stop Eksploitasi Karst Gunungkidul

…tlatah Ngayogyakarta sak wetan Bantul, itulah Gunungkidul.

Daerah yang akrab disapa bumi Handayani ini semakin membentangkan sayapnya dengan segala potensi yang dimiliki. Gunungkidul yang dulu dicap gersang, namun mempunyai keindahan alam yang menakjubkan, sehingga akhir-akhir ini menjadi pilihan banyak orang untuk tujuan wisata.  Tak hanya itu, di tengah arus modernisasi, tradisi, kearifan lokal, dan budaya masih sangat melekat.

Gunungkidul dikenal termasuk dalam bentang alam kast pegunungan sewu, hamparan batu kapur yang terbentuk melalui proses pelarutan mencapai jutaan tahun. Kawasan yang unik, dengan bukit-bukit, telaga, luweng , gua dan sungai bawah tanah. Luas kawasan mencapai 53%, yaitu 807 km persegi, meliputi 11 kecamatan yaitu kecamatan Purwosari, Panggang, Saptosari, Tanjungsari, Tepus, Girisubo, Rongkop, Ponjong, Semanu, Paliyan, dan Wonosari.

Namun kini eksploitasi penambangan batu kapur secara besar-besaran kian memprihatinkan. Memang kawasan karst memiliki kekayaan alam yang tinggi, namun jika tidak ditanggapi dengan bijak, bukan tidak mungkin akan merusak lingkungan yang ada. Penambangan batu merupakan upaya menghancurkan kawasan karst, karena kerusakan akibat penambangan batu tidak dapat diperbaiki.

Eksploitasi Karst Gunungkidul

Salah satu kegiatan penambangan liar di Tepus.

Berawal dari rantai kemiskinan, menjadi salah satu faktor sebagian masyarakat Gunungkidul menggantungkan hidup dengan cara menambang batu. Di situlah roda ekonomi berputar, yang tadinya hanya tambang rakyat menggunakan alat tradisional, kini mulai di dominasi alat berat para investor. Efeknya tambang rakyat kalah saing sehingga hanya menjadi buruh di perusahaan besar. Dengan dalil klasik, meningkatkan PAD dan menambah lowongan kerja, secara tidak langsung ini menjual kekuasaan.

Hingga saat ini, pemerintah Gunungkidul terlihat tak berdaya. Jika berkaca pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah Nasional bahwa kawasan karst merupakan kawasan lindung geologi, jadi jelas dilarang untuk pertambangan. Namun implementasi atas Surat Edaran Bupati Nomor 540/0196 tertanggal 7 Februari 2011 tentang pelarangan penambangan di kawasan karst juga tidak berjalan baik. Hingga saat ini, masih marak kegiatan penambang batu baik itu legal maupun ilegal. Hal ini menjadi pemasalahan besar karna menyangkut hajat orang banyak dan kelesarian lingkungan hidup. Apalagi daerah seperti ini rawan konflik horizontal maupun vertical. Tumpang tidihnya peraturan antara pusat dan daerah juga tidak jelas.

…. Sampai kapan, menyimpan bom waktu dibalik emas putih ?

Saatnya pemerintah benar-benar bijak menegakkan aturan, kekayaan alam kawasan karst tak sebanding dengan nilai pasarnya. Masalah mengenai hajat hidup orang banyak, pemerintah harus menempuh langkah yang tegas, dialog dengan warga, ubah paradigma bahwa warga inisiator dan pemerintah fasilitator, ini salah satu konsep pemberdayaan masyarakat. Meningkatkan  partisipasi dan masyarakat yang bertanggungjawab, membangun kesadaran kolektif atas pentingnya isu lingkungan. Lakukan pemetaan atas potensi yang ada pada setiap daerah, mengangkat potensi-potensi terpendam untuk menekan kegiatan tambang. Melindungi setiap potensi dan usaha yang dibangun warga supaya tidak ada intervensi dari luar untuk kepentingan golongannya. Menekan jumlah investasi yang hanya akan menguntungkan satu pihak.

Sudah seharusnya alam harus dibela, penurunan kualitas lingkungan hidup, berarti menurunnya kualitas manusianya, lahan bukan hanya menjadi nilai komersial, namun menjadi kesatuan antara manusia, hewan, dan tumbuhan.

~ Membangun tanpa menghancurkan, Memanfaatkan tanpa merusak ~

Penulis: F. Ramadhani Setyawan
Pemerhati lingkungan dan sosial politik, asli Gunungkidul
Twitter: @VoxDhani13 
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4.00 out of 5)

Tentang GdHE

Gerakan memaksimalkan potensi dan sumber daya kabupaten Gunungkidul yang didukung semangat masyarakat untuk membangun Bumi Handayani menjadi lebih baik dimasa yang akan datang.