Home » Artikel » Opini Publik » Mari Selamatkan Bumi Handayani dari Eksploitasi Alam Yang Berlebihan

Mari Selamatkan Bumi Handayani dari Eksploitasi Alam Yang Berlebihan

Menelaah kembali perkembangan potensi pariwisata di Gunungkidul beberapa tahun terakhir ini ada beberapa hal yang perlu kita cermati bersama, baik itu dampak positif maupun dampak yang bisa dibilang negatif.

Dampak positifnya adalah kabupaten Gunungkidul yang dulu dipandang sebelah mata, kini semakin ‘mendunia’ dengan dibukanya banyak obyek wisata baru mulai dari pantai, air terjun hingga wisata minat khusus seperti rafting dan cave tubing. Hal ini tentunya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gunungkidul maupun meningkatkan perekonomian masyarakat.

Namun tentu saja tidak cukup bijaksana jika kita terlalu lama larut dalam euforia atas berkibarnya pariwisata di Gunungkidul lalu melupakan persoalan lain yang sebenarnya sangat penting untuk dilakukan. Seperti kita tahu jika 90% potensi wisata Gunungkidul adalah wisata alam seperti goa, air terjun, pantai, gunung, hutan dll. Dari sinilah persoalan akan muncul ketika kita terlalu mengekspoitasi alam dengan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan rehabilitasi untuk menjaga dan melestarikan sehingga alam tidak mengalami kerusakan.  Dan yang terpenting adalah kita tetap bisa mewariskan kepada anak cucu kita di masa depan. Dan ini bukan persoalan bagi pemerintah saja, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Gunungkidul, namun persoalan kita bersama, yaitu masyarakat Gunungkidul dan juga para wisatawan sebagai penikmat obyek wisata itu sendiri.

Beberapa hari terakhir ini, sosial media dibanjiri dengan polemik tentang pengunjung Goa Pindul yang overload terutama ketika akhir pekan atau hari libur.  Belum selesai persoalan sengketa tanah di Goa Pindul, kini muncul beberapa persoalan baru. Saya sempat membaca beberapa artikel yang dibuat oleh beberapa blogger dan traveler yang menyoroti tentang membludaknya wisatawan di obyek wisata goa tersebut.  Saya pun ikut terhenyak dengan kenyataan tersebut. Sebagai warga Gunungkidul, saya merasa ikut bertanggungjawab untuk turut serta menyelamatkan tanah Gunungkidul.

Goa Pindul / Foto: @goapindul_GK

Goa Pindul / Foto: @goapindul_GK

Saya menemukan beberapa artikel di Detik Travel yang secara khusus memuat persoalan pengunjung di Goa Pindul ini. Luar biasa, kapasitas pengunjung 200 orang bisa membengkak hingga 2.500 orang. Ada juga tulisan yang menyoroti kontribusi travel writer pada kerusakan lingkungan.  Dimana para travel writer dianggap ikut berperan membangun animo masyarakat untuk berkunjung ke obyek wisata tertentu. Seperti yang ditulis oleh Ken Savitrie di Kompasiana. Ada lagi artikel dari Efenerr yang memberikan beberapa solusi untuk mengatasi carut marut Goa Pindul tersebut.

Saya tidak akan fokus menginvestigasi tentang persoalan Goa Pindul saja, karena persoalan seperti ini hanya salah satu indikasi tidak terkoordinasinya antar elemen dan insan pariwisata untuk lebih berpikir kritis dan melihat jauh ke depan.  Kejadian seperti ini bisa terjadi pada obyek wisata di tempat lain apabila kita membiarkannya dan tak ada tindakan nyata untuk menyelamatkannya.  Saya yang notabene orang Gunungkidul sangat berterima kasih kepada mereka yang menyentil persoalan ini ke ranah publik agar menjadi perhatian kita bersama terlebih kepada pemerintah kabupaten Gunungkidul agar segera mengambil tindakan.

Saya telah menaruh harapan besar dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 5 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan.  Saya pikir ini menjadi awal perhatian pemerintah terhadap kelestarian Bumi Handayani dan juga menghindarkan konflik pariwisata di Gunungkidul.

Pada Bab II Prinsip Penyelenggaraan Kepariwisataan Pasal 4 ditulis:

Kepariwisataan diselenggarakan dengan prinsip:

  1. menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan sesama manusia, dan hubungan antara manusia dan lingkungan;
  2. menjunjung tinggi hak asasi manusia, keragaman budaya, dan kearifan lokal;
  3. memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat, keadilan, kesetaraan secara proporsional;
  4. memelihara kelestarian alam dan perlindungan lingkungan;
  5. meningkatkan pemberdayaan masyarakat;
  6. menjamin keterpaduan antar sektor, antar daerah, antara pusat dan daerah yang merupakan satu kesatuan sistemik dalam kerangka otonomi daerah, serta keterpaduan antar pemangku kepentingan;
  7. mematuhi kode etik kepariwisataan lokal, nasional dan internasional; dan
  8. memperkukuh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari prinsip diatas, sudah jelas bahwa memelihara kelestarian alam dan perlindungan lingkungan adalah tanggungjawab para pelaku pariwisata (baik itu pengusaha di industri pariwisara maupun para wisatawan).

Kesimpulan dari hal-hal diatas, ada beberapa poin yang harus kita lakukan dan kita perhatikan untuk menyelamatkan Gunungkidul dari ekploitasi alam yang berlebihan:

  1. Pemerintah daerah mengambil tindakan yang nyata dan tegas untuk menyelamatkan lingkungan dengan menegakkan Perda yang telah ditetapkannya.
  2. Edukasi bagi operator / pelaku wisata, pemerintah, wisatawan dan masyarakat.
  3. Pembatasan kuota pengunjung sesuai dengan studi kelayakan dari pemerintah.
  4. Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga alam dan lingkungannya dari kerusakan.
  5. Memberlakukan kegiatan ekowisata yang berwasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam.

Sekali lagi, persoalan carut marut pengelolaan obyek wisata tidak akan selesai jika hanya saling menyalahkan, namun mari kita semua yang sudah seharusnya ikut bertanggungjawab. Beberapa wilayah karst Gunungkidul telah diakui menjadi kawasan Geopark, maka sekarang kewajiban kita secara bersama memikul tanggungjawab tersebut. Biarkan Gunungkidul tetap menjadi The Hidden Paradise dengan segala keindahan dan keelokannya.

Pranala luar:

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)

Tentang Arwan

Lahir dan besar di Gunungkidul. Penjelajah waktu yang suka menyeruput kopi.