pasar rakyat gunungkidul

Peran Pasar Rakyat Dalam Memutar Roda Ekonomi Masyarakat Gunungkidul

Perdagangan atau perniagaan adalah kegiatan tukar menukar barang atau jasa atau keduanya yang berdasarkan kesepakatan bersama bukan pemaksaan. Pada masa awal sebelum uang ditemukan, tukar menukar barang dinamakan barter yaitu menukar barang dengan barang. Pada masa modern perdagangan dilakukan dengan penukaran uang. Setiap barang dinilai dengan sejumlah uang. Pembeli akan menukar barang atau jasa dengan sejumlah uang yang diinginkan penjual. Dalam perdagangan ada orang yang membuat yang disebut produsen. Kegiatannya bernama produksi. Jadi, produksi adalah kegiatan membuat suatu barang. Ada juga yang disebut distribusi. Distribusi adalah kegiatan mengantar barang dari produsen ke konsumen. Konsumen adalah orang yang membeli barang. Konsumsi adalah kegiatan menggunakan barang dari hasil produksi.  (sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan )

Menurut Saleh (2019: 1) Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain. Mengetahui strategi pemasaran sangat penting bagi pedagang karena akan menentukan keberlanjutan usahanya.

pasar tradisional

Perdagangan adalah sektor utama penunjang perekonomian suatu negara, dan salah satu alat pemutar perekonomian masyarakat di Indonesia adalah pasar rakyat/pasar tradisional.   Pasar rakyat merupakan salah satu wujud aplikasi ekonomi kerakyatan yang paling mendasar. Dimana transaksi ekonomi dilakukan oleh rakyat kebanyakan secara swadaya dengan mengelola sumber daya ekonomi yang tersedia, yang meliputi sektor pertanian, peternakan, kerajinan, makanan, dan lain sebagainya. Keseluruhan kegiatan ekonomi tersebut berbasis masyarakat yang ditujukan untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup tanpa mengeksploitasi sumber daya alam yang ada. Pasar tradisional merupakan basis ekonomi rakyat yang memiliki potensi besar dan mampu menggerakkan roda perekonomian. Dalam kondisi krisis, pasar tradisional terbukti tetap bertahan dan mampu melayani kebutuhan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat luas baik kalangan menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Pasar tradisional telah menyumbangkan lapangan kerja dan memberikan kehidupan bagi banyak orang. Saat ini di Indonesia terdapat 13.450 pasar tradisional yang tersebar di seluruh penjuru tanah air, dari jumlah tersebut menampung sebanyak 12,6 juta pedagang belum termasuk para pemasok barang serta pengelola pasar.

Sayangnya, keberadaan pasar tradisional saat ini semakin terhimpit bahkan bisa dikatakan kalah bersaing dan makin tersisih akibat dari pesatnya pertumbuhan pasar modern. Saat ini pertumbuhan pasar modern di berbagai kota besar di Indonesia telah merambah hingga ke pelosok daerah. Hampir di seluruh kecamatan terdapat pasar modern yang tidak hanya mengalahkan pasar rakyat, tetapi juga mematikan warung-warung kecil warga di wilayah tersebut.  Menurut data Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) antara tahun 2007-2011 atau dalam kurun 4 tahun menyebutkan jumlah pasar tradisional turun drastis dari 13.540 menjadi 9.950 dengan jumlah pedagang pasar tradisional berkisar 12.625.000 orang, menurut data Kementrian Perdagangan tahun 2011 dari 9.950 pasar tradisional sebanyak 3.800 diantaranya sudah lenyap. Data-data tersebut mencerminkan posisi pasar tradisional didalam kehidupan masyarakat kian mengkhawatirkan para pedagang kecil, ditambah lagi saat ini pasar tradisional tumbuh melambat sebesar 8,1% sementara pasar modern tumbuh berkembang sebesar 31,4% (Sindonews, 2018).

Dalam istilah Jawa yang pernah disampaikan oleh Sunan Kalijaga yaitu “Yen pasar wis ilang kumandange” ( Jika pasar sudah mulai hening – red) yang mengandung maksud  sudah tidak berlakunya tawar-menawar dalam urusan jual beli, hal ini karena banyaknya pasar modern yang merambah sampai pelosok tanah air, dan saat inilah ucapan tersebut mulai menjadi kenyataan yang efeknya bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah sangat berpengaruh terhadap perekonomian mereka. Apalagi beberapa pasar modern menerapkan kebijakan buka 24 jam, yang sampai kalau masyarakat hanya sekedar membutuhkan secangkir kopi panas pun mereka siap menyediakannya.

Jika ditilik lebih jauh, pemilik pasar modern adalah para pemodal yang jelas bukan warga lokal. Ini berarti bahwa uang masyarakat lokal dikeruk dan dibawa kabur dengan hanya sedikit meninggalkan ‘jejak’ sekedar gaji karyawan. Uang yang diputar di wilayah tersebut sangat kecil, sekecil biji sawi berbanding dengan waluh yaitu perumpamaan dari laba yang mereka peroleh, yang artinya mereka tidak ikut menggerakan roda perekonomian setempat.  Kalaupun ada andil, tak lebih hanya pajak yang dibayarkan dan uang gaji karyawan yang tidak seberapa. Ini sangat jauh berbeda dengan pasar rakyat, para pedagang adalah warga lokal, paling jauh warga tetangga kabupaten. Pasar Rakyat banyak menyerap tenaga kerja lokal; dari pedagangnya sendiri, tukang parkir, kuli panggul, penjaga MCK dan dalam tanda kutip bahkan mampu ‘menghidupi gelandangan’. Berapa besar jumlah sarjana, teknokrat, ekonom dan juga politikus yang dicetak dengan memeras keringat hasil dari pasar rakyat? Jawabannya sudah tak terhitung lagi. Kita berharap mereka tidak melupakan fungsi dan keberadaan pasar tradisional, sesukses apapun mereka.

Manfaat yang tak kalah penting, pasar rakyat juga banyak menyerap hasil pertanian, perkebunan dan peternakan lokal yang jelas mempunyai andil besar dalam memutar roda pekonomian masyarakat. Disamping itu, pasar rakyat juga salah satu penyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang cukup besar. Kabupaten Gunungkidul di tahun 2020 ini, mentargetkan pasar rakyat menyumbang PAD sebesar Rp. 3.954.237.804,82.

Dari uraian diatas, maka menyelamatkan pasar tradisional hukumnya adalah Fardhu Ain bagi kita semua, masyarakat dan pemerintah tentunya, dari pemerintah pusat hingga tataran RT (Rukun Tetangga).  Dan ini menjadi salah satu kesempatan kita untuk mengambil pilihan ikut bela negara, menyelamatkan perekonomian masyarakat.  

About Sularno

Lahir, besar bahkan tua di Gunungkidul. Saat ini sebagai pegiat pasar tradisional dan Ketua RT

Check Also

Saatnya Masyarakat Gunungkidul Sadar Pentingnya Pendidikan

Kabupaten Gunungkidul secara geografis wilayah sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Sleman dan kabupaten Klaten, Jawa …