Home » Artikel » Opini Publik » Saatnya Masyarakat Gunungkidul Sadar Pentingnya Pendidikan
Saatnya Masyarakat Gunungkidul Sadar Pentingnya Pendidikan

Saatnya Masyarakat Gunungkidul Sadar Pentingnya Pendidikan

Kabupaten Gunungkidul secara geografis wilayah sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Sleman dan kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, bagian selatan berbatasan langsung dengan samudera Hindia. Sedangkan bagian barat berbatasan dengan kabupaten Bantul. Kabupaten dengan luas wilayah 1.485 km2 memiliki 18 kecamatan dan 144 desa. Jumlah tersebut 73 atau 60,69% merupakan wilayah desa tertinggal.

Berdasarkan data demografi tahun 2009 yang disampaikan Disdikpora Gunungkidul, pada sektor pendidikan diperolah data dari 688.145 jiwa, yang tidak/belum pernah sekolah sebanyak 24.304 (3,53%), tidak/belum tamat SD sebanyak 78,470 (11,40%), dan tamat SD dan sederajat  237,944 (34,58%). Tentu hal ini sangat bertentangan dengan program pemerintah yang mencanangkan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan taraf kehidupan rakyat dalam rangka menjawab kebutuhan dan tantangan dan kebutuhan jaman.

Sebenarnya apa yang menjadi permasalahan sehingga pendidikan dasarpun belum mampu terwujud secara merata bagi seluruh warga Gunungkidul.

  1. Gunungkidul memiliki 74.632 penduduk miskin. Kondisi ini terjadi karena ekonomi masyarakat yang masih tertinggal dan tergolong miskin. Kondisi geografis Gunungkidul dengan batu kapur dan tanah tandus tentu belum bisa meningkatkan taraf hidup mereka yang bermata pencaharian sebagai petani tadah hujan. Jangankan untuk memberikan pendidikan anak-anak mereka, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya menjadi bagian utama dalam kesehariannya.
  2. Daerah pelosok di pegunungan yang sulit terjangkau oleh informasi, jauh dari keramaian, menjadikan masyarakat kurang paham dan mengerti akan artinya pendidikan. Banyak sekolah yang jauh dari tempat tinggal mereka. Jalan jauh harus ditempuh untuk mencapai sekolah tersebut mengharuskan mereka tidak berfikir untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Meskipun sebenarnya alasan ini tidak dibenarkan namun menjadi sebuah alasan yang tidak bisa dipersalahkan juga.
  3. Anggaran pendidikan dari pemerintah sebanyak 20% pun serasa tak berdaya dalam penyelanggaraan pendidikan secara merata. Masih banyak sekolah yang jauh dari tempat tinggal penduduk. Banyak sekolah yang rusak belum bisa diperbaiki, dan juga banyak fasilitas sekolah yang kurang memenuhi syarat. Hal ini juga menjadi faktor mengapa banyak usia sekolah dasar putus sekolah dan tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.
  4. Keluarga yang menjadi motivator terbaik dalam pendidikan keluarga kurang memotivasi keluarganya yang usia sekolah untuk wajib sekolah dengan berbagai alasan. Faktor kemiskinan menjadikan pola pikir penduduk untuk lebih baik bekerja mencari nafkah dari pada menghabiskan dana untuk sekolah. Menikah muda menjadi pilihan kedua setelah tidak bekerja agar dapat meringankan beban keluarga karena kehidupan mereka akan ditanggung oleh keluarga baru mereka sendiri.

Pemerintah terutama Dinas Pendidikan bersama masyarakat memiliki andil dalam mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan. Ketiga stakeholder yang bahu-membahu, bekerjasama dengan baik akan dapat mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa demi terentasnya kemiskinan di Gunungkidul sehingga taraf kehidupan masyarakat meningkat. Masyarakat yang sejahtera dan bermartabat akan dapat tercapai.

  1. Kebijakan pemerintah untuk mendirikan sekolah-sekolah yang dekat dengan pemukiman penduduk akan dapat meningkatkan minat anak untuk sekolah. Keluarga tidak akan terbebani dengan segala macam biaya operasional sekolah. Sekolah gratis bagi mereka yang berada dalam garis kemiskinan juga bisa menjadi alternatif pilihan dalam pengentasan kemiskinan dan pemberantasan kebodohan. Sistem subsidi silang bisa menjadi program untuk pelaksanaan pendidikan di daerah pelosok.
  2. Menugaskan guru-guru dengan dedikasi tinggi pada daerah-daerah pelosok agar dapat mendampingi masyarakat dan anak usia sekolah agar tetap bertahan untuk sekolah, mengenyam pendidikan. Guru-guru tersebut berada di bawah manajemen pemerintah daerah terutama Dinas pendidikan. Sehingga pendidikan dua arah antara pendidik dan terdidik dapat berjalan sebagaimana mestinya ketika dua pihak ini terperhatikan dengan baik.
  3. Pada jalur nonformal, pemerintah memberikan kesempatan kepada organisasi-organisasi tertentu untuk mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Selain itu pemerintah juga memiliki suatu badan dalam bidang PKBM agar bisa berjalan sinergi antara pihak swasta dengan pemerintah. Pemberantasan buta aksara, pemberian pelajaran budi pekerti, keterampilan, memfasilitasi kejar paket A, B, dan C. Keterampilan tersebut akan menjadi bekal bagi masyarakat putus sekolah agar bisa mempertahankan hidupnya meskipun tanpa ijazah yang mereka miliki.
  4. Pemerintah membuat sebuah program kerja untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan demi masa depan yang lebih baik. Informasi yang baik dari pemerintah pasti akan dipercaya oleh masyarakat bawah terutama pada masyarakat di pelosok dan pegunungan. Informasi yang diberikan ini diharapkan dapat memotivasi setiap keluarga untuk menyisihkan pemikirannya untuk tetap mementingkan pendidikan bagi anggota keluarga mereka, terutama bagi anak-anak usia sekolah

Pendidikan adalah salah satu pilar, kunci yang akan menentukan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Pemerintah dan masyarakat harus bahu membahu membangun prakarsa pendidikan agar masyarakat Gunungkidul menjadi masyarakat yang cerdas dan bermartabat.

Salam Pendidikan

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)

Tentang Umi Azzurasantika

perempuan, pendidik, music freak, dan berusaha untuk menjadi seorang ibu yang baik. ingin selalu berbagi, bermanfaat bagi siapapun, semakin ilmu di bagi akan semakin kaya dan bermanfaat. ~biarkan ilmu memandu kalbu~