Home » Lingkungan » Pengin Move On? Belajarlah Ke DKKS (3)
Pengin Move On? Belajarlah Ke DKKS (3)

Pengin Move On? Belajarlah Ke DKKS (3)

No pressure No diamond; Tidak ada tekanan Tidak ada berlian – Mary Case

Di dua tulisan terdahulu telah dibagikan proses sebuah kelompok warga yang telah Move On yang didahului dengan proses “menyendiri” membentuk SPR dan SAP sebagai instrumen permenungan hingga mereka mengkristalkan tekad menjadi komunitas DKKS. Di tulisan ke-3 sekaligus penutup ini penulis ingin membagikan pencermatannya  terhadap komunitas DKKS dan Suratimin dalam mengelola konsekuaensi dari Move On yang telah mereka pilih.

Memang telah berproses dengan 75 orang dalam pembelajaran di puluhan kelas SPR pada rentang 2004 – 2007 namun mempertahankan komitmen memang tidak semudah membalikan tangan, kawan.  Rentang 3 tahun memang terbukti dapat dijadikan tolok ukur, baik dari segi bertahannya ikatan kelompok warga yang diwadai dalam kelembagaan SPP Gunungkidul maupun segi semakin matangnya desain DKKS. Belajar dari beragam pengalaman organisasi komunitas yang telah dipelajari, SPP Gunungkidul mengambil langkah strategis untuk merawat desain DKKS dan organisasi dengan mendirikan media komunitas bernama Radio Desa Kawasan Konservasi (Radekka FM) pada tanggal 18 Maret 2008. Media komunitas radio dipilih dengan pertimbangan matang.

Parade Penyiar Cilik On Air 12 Jam RADEKKA MERDEKA!!!! 17 Agustus 2008

Parade Penyiar Cilik On Air 12 Jam RADEKKA MERDEKA!!!! 17 Agustus 2008

Radekka FM dalam proses siarannya menjadi medium pengelolaan pengetahuan yang baru. Melalui media komunitas ini warga belajar bermedia. Selain kampanyekan desain DKKS, Radekka FM juga siarkan berita terkini dari KBR68H Jakarta dan mitra lainnya untuk melengkapi keragaman konten siaran.

Seperti yang sudah berulang kali didiskusikan dalam rangkaian pembelajaran SPR, rontoknya jumlah orang dalam sebuah gerakan adalah sebuah keniscayaan dan ini juga yang dialami oleh SPP Gunungkidul. Proses yang tercatat hingga melibatkan 75 orang bertumbangan satu per satu. SPP Gunungkidul pernah mencapai titik nadirnya di medio 2009 saat proses pemilihan lurah desa. Saat itu Suratimin yang juga ketua SPP juga ikut maju berkompetisi dalam pesta demokrasi  desa. Seperti diketahui ajang pemilihan lurah desa ini diajukan 3 tahun dari jadual semula karena lurah desa masuk bui karena tersandung kasus SUTET. Majunya Ketua SPP dalam bursa pilurdes adalah untuk memberikan pengetahuan dan mendinamisir pesta demokrasi desa sehingga menjadi ajang yang produktif bagi desa. Dalam konstestasi kampanye Suratimin memberikan sisi baru dalam berkompetisi yakni tanpa tim sukses namun berbekal sebuah desain desa masa depan.

Apalacur,serangan politik kotor secara kasap mata dipertontonkan di depan mata Suratimin dan keluarga. Proses berbagi pengetahuan yang mengedepankan akal sehat dan niat baik selama proses 2004 – 2009 seakan hilang bak panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Statemen “suratimin kalo mati jasadnya gak ada yang mau ngubur” jadi kampanye sahih lepaskan akal sehat dari kepala warga atas hasutan tim sukses kandidat tertentu. Sebuah serangan ideologis karena perbedaan golongan dalam memeluk sebuah keyakinan. Suratimin terhempas dalam bursa pilurdes dengan bilangan dukungan hanya dari keluarga sendiri. Penulis mendefinisikan peristiwa tersebut adalah tragedi – ironi. Sebegitu mudahnya rakyat ini terlepas dari akal sehat dan nurani. Meski tak pernah menargetkan memenangi kompetisi, setidaknya proses pilurdes dapat menjadi potret kerentanan gerakan pembaharuan DKKS.

MOVE ON Jilid II , penulis menyebut demikian karena DKKS Bangkit kembali. Suratimin dan keluarga menunjukan pribadi yang penuh rasa syukur dan tulus. Keluarga kecil itu justru menampakan welas asih meski keluarga besar masih terasa menampakkan kekesalannya terhadap kondisi yang ada. Akal sehat pun pasti bertanya mengapa si pemenang adalah yang berkebalikan180 derajat dengan yang selama ini dikembangkan bersama. Begitulah sebuah proses kawan.

Kesetiaan pada tekad akhirnya sang waktu jualah yang akan kabarkan. Implementasi desain DKKS terus dijalankan.pembangunan jaringan tetap bekerja dan apresiasi dari banyak pihak terus mengalir. Setidaknya 2 kelembagaan nasional memberikan dukungan bagi DKKS untuk menjadi modeling perempuan bermedia melalui talkshow kesetaraan dan keadilan gender selama 2 tahun dan modeling desa inventarisasi karbon yang pertama di Indonesia.

Satu adegan dalam film “Our Village Forest” yang masuk 10 Besar dalam WWF Film dan Video Competition 2011

Satu adegan dalam film “Our Village Forest” yang masuk 10 Besar dalam WWF Film dan Video Competition 2011

Desain DKKS dengan 3 fokus kerja yakni pengelolaan hutan lestari, pengembangan media komunitas, dan desa inventarisasi karbon, mengantarkan Suratimin sebagai perwakilan SPP Gunungkidul dalam rangkaian prestasi. Juara I tingkat kabupaten dengan 2 kategori yakni Seleksi Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan dan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat, Juara I DIY untuk Seleksi Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan dan Juara II DIY Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat. Di tingkat nasional, Suratimin menjadi satu-satunya wakil DIY dalam ajang seleksi Kalpataru. Anugerah Kalpataru Kategori  Perintis Lingkungan diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal  10 Juni 2013 dalam puncak acara Hari Lingkungan Hidup di Istana Negara Jakarta.

Suratimin bersama isteri, seorang perempuan hebat yang menemani perjuangan sang suami

Suratimin bersama isteri, seorang perempuan hebat yang menemani perjuangan sang suami

Proses panjang kedekatan Suratimin pada lingkungan hidup sedari bangku sekolah dan inovasi desa masa depan bernama DKKS  ternyata ketika didokumentasikan terbukti mampu menjadi inspirasi bagi bangsa. Alasan inilah yang menjadi rekomendasi dari Dewan Kalpataru kepada presiden untuk menganugerahkan Kalpataru bagi Suratimin.

Pemimpin dengan gagasan cerdas juga ditampakan oleh Suratimin dalam pengelolaan hutan lestari. Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat dari Lembaga Ekolebel Indonesia (LEI) berhasil diraih dan kreatifitas mengolah limbah kayu menjadi green flash disc telah diapresiasi sebuah jaringan dengan menjadikannya souvenir pada sebuah pertemuan nasional, setidaknya menjadi penanda bahwa keseriusan dalam perjuangan pasti selalu mendapatkan kemenangan. Meski dalam memperolehnya seringkali harus mandi keringat, berdarah, ditinggal teman dan pengalaman pedih lainnya. Green flash disc kini jadi ikon produk DKKS yang mulai dilirik banyak pihak melengkapi produk olahan kayu lain seperti furniture, perlengkapan rumah, dan rumah kayu. Sukses produk DKKS sukses pula peningkatan kesejahteraan warga. Matahari kini terbit di negri Kalpataru bernama DKKS dan cahayanya akan selalu bersinar.

MOVE ON sekarang supaya prestasi GO ON. (selesai)

Berikan rating: 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)

Tentang Hernindya Wisnuadji

Pegiat inovasi desa. Pecinta branding komunitas. Memulai kegiatan community enpowerment sejak 1998 dan berkesempatan belajar audit sosial di Hyderabad, India tahun 2011.