Home » Lingkungan » Pengin Move On, Belajarlah ke DKKS (2)
Pengin Move On, Belajarlah ke DKKS (2)

Pengin Move On, Belajarlah ke DKKS (2)

6 huruf
2 kata
Gampang diucapkan
Sulit dijelaskan
Lebih sulit dilakukan
Itulah MOVE ON

(diambil dari Google)

Di tulisan sebelumnya telah penulis sampaikan awal perjalanan kelompok warga di Desa Semoyo yang berangkat dari kegalauan akan kondisi desanya yang kemudian membangun sekolah komunitas, SPR bagi orang dewasa dan SAP bagi anak-anak petani. Kedua sekolah komunitas tersebut diselenggarakan untuk pengelolaan pengetahuan di atara mereka supaya keluar dari kegalauan yang menggelayut di benak mereka saat itu. Berikut adalah kelanjutan kisahnya.

SPR dan SAP bergerak mengikuti sang waktu. Seiring dengan geliat warga untuk memperbanyak pertemanan, kelas pembelajaranpun menuai banyak dukungan sebagi buah dari pertemanan tersebut. Kelas pembelajaran bukan hanya dilakukan di internal desa saja namun juga keluar desa. Mereka dengan bangga menyebutnya studi banding. Studi banding dilakukan untuk melihat praktek baik dan mendengar langsung dari sang pelaku. Lokasi yang menjadi studi banding adalah merupakan bahan pembelajaran yang telah didiskusikan dalam kelas pembelajaran SPR.

dkks_moveon_4

Siswa SAP ikuti pembelajar SPR studi banding ke Kelompok Warga Jaringan SPP Garut di lereng Gunung Papandayan Jawa Barat

Dampak dari kegiatan studi banding sangatlah terasa. Pencermatan penulis yang juga menjadi fasilitator puluhan kelas pembelajaran dan hadir di detail kegiatan-kegiatan studi banding mendapati bahwa visi yang ingin dicapai oleh kelompok warga mulai terbentuk dan mereka mulai mereka-reka gagasan tentang desanya. Sharing dari para pelaku praktek baik yang mereka kunjungi Nampak membakar kejuangan kelompok warga untuk memulai memperbaharui desanya. Semangat untuk mereplikasi beragam praktek baikpun segera dimulai. Pertanian berkelanjutan dengan pembuatan pupuk organic dan pestisida alami, pembangunan kebun bibit rakyat, hingga revitalisasi peternakan desa adalah proses panjang yang telah dipilih untuk diselenggarakan. Perjalanan  menemukan fokus kerja yang dapat menjadi ikon gerakan pembaharuan desa bak proses melakukan listingpilihan diujung kegalauan.

dkks_moveon_5

Kelompok Perempuan juga kembangkan kelas pembelajaran sendiri

Adalah Gempa Jogja 27 Mei 2006 yang membuat kelompok warga ini semakin menjadi-jadi dalam bekerja bersama menorehkan gerakan pembaharuan desa. Rusaknya rumah, hilangnya belasan sumber air, dan terganggunya usaha produktif warga karena bencana alam jadi pelecut pembakar semangat untuk berinovasi bagi desa.

Adalah Suratimin yang kemudian terpilih sebagai Ketua Serikat Petani Pembaharu (SPP) Gunungkidul, sebuah organisasi komunitas yang mereka bentuk sebagai lembaga yang menajamkan gerakan pembaharuan Desa Semoyo.18 Agustus 2006 tercatat sebagai hari lahirnya SPP Gunungkidul. Mandat warga kepada SPP adalah menjadi lembaga yang mengawal gerakan pembaruan bagi Desa Semoyo, me-recovery kehidupan warga pasca bencana dan berjuang mensejahterakan segenap warga.

Dibawah kepemimpinan Suratimin, gerakan inovasi menemukan sebuah ikon desa yang manjadi branding baru bagi desanya. Ya Desa Kawasan Konservasi Semoyo (DKKS). MOVE ON telah telah terjadi kawan. Mereka MOVE ON!!!!

Berbekal ide yang mengkristal yang dikemas dalam ikon DKKS, Suratimin beserta kepengurusan SPP mulai bergerilya dan bersinergi dengan semakin banyak pihak. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pun menyambut antusias gagasan inovatif bernama DKKS ini.

Nah kawan, momen sejarah tertoreh di Desa Semoyo. Pada tanggal 18 Agustus 2007 Bupati Gunungkidul Suharto, SH mencanangkan Desa Kawasan Konservasi Semoyo sebagai bentuk dukungan inisatif warga dalam karya inovasi bagi desa.

dkks_moveon_6

Bupati Gunungkidul tanda tangani marmer Pencanangan Desa Kawasan Konservasi Semoyo (DKKS)

MOVE ON akan selalu mendatangkan banyak dukungan  dan lahirkan prestasi, kawan.

Di tulisan ke-tiga akan dipaparkan perjalanan DKKS meraih banyak dukungan dan prestasi dari tingkat kabupaten, DIY, maupun tingkat nasional. Penulis akan sampaikan juga perjalanan terjal dan berliku yang dialami Suratimin hingga menjadi penerima Augerah Kalpataru 2013. (Bersambung)

Berikan rating: 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)

Tentang Hernindya Wisnuadji

Pegiat inovasi desa. Pecinta branding komunitas. Memulai kegiatan community enpowerment sejak 1998 dan berkesempatan belajar audit sosial di Hyderabad, India tahun 2011.