Home » Lingkungan » Pengin Move On, Belajarlah ke DKKS (1)
Pengin Move On, Belajarlah ke DKKS (1)

Pengin Move On, Belajarlah ke DKKS (1)

Tiap manusia pasti pernah mengalami periode “merenung”. Periode di mana kita terkondisi menyendiri, menyelinap dalam kesendirian, menghindari keramaian keseharian kehidupan. Periode yang serahkan   diri pada tahta alam pikir. Saat seperti itu video detil kehidupan terputar berulang-ulang dan acap kali segenap emosi tertumpah mencari momentumnya. Literatur baik input dari sahabat, rekan, dan keluarga ataupun dari bahan bacaan dan instrumen lain sering kali melengkapi proses strategis perjalanan anak manusia ini. Meski “merenung” miliki ruang relativitas tak terbatas namun biasanya berujung pada pilihan yang kemudian diambil oleh sang perenung. Saat pengambilan pilihan inilah yang kemudian popular disebut move on.

Nah kawan, apabila kamu sedang dalam proses “merenung”, tepat kiranya meneruskan pembacaan tulisan ini. Siapa tahu menjadi literature dan bekal anda untuk segera move on.

Saat itu, pertengahan tahun 2004, saya menjadi bagian dari sebuah lembaga yang bekerja bersama warga membangun infrastruktur publik di Desa Semoyo Kecamatan Patuk. Nah dalam perjalanan waktu saya bertemu dengan kelompok warga yang peduli pada desanya. Kelompok warga yang “galau” akan desanya.”Galau” karena harga bibit dan pupuk semakin mahal, SDM desa yang tak beranjak naik, biaya sekolah anak yang mahal, budaya nyumbang yang menyandra, dan masih banyak peta masalah desa lainnya. Sebenarnya masalah yang semacam ini hampir dimiliki oleh semua desa yang ada ya. Terdapat tambahan permasalahan di Desa Semoyo yang jadikan permasalahan di atas semakin pelik yakni dampak konflik pemilihan lurah desa dan kasus SUTET. Dua permasalahan terakhir ini yang jadikan warga rasakan seakan Negara benama Desa Semoyo tidak eksis. Bak “negeri auto pilot” lah jika dengan bahasa saat ini. Meski layanan publik administrasi kependudukan tidak terlalu terganggu namun bukankah tugas pemerintahan desa tidak semata itu khan ?

Yang menarik adalah kelompok peduli desa ini tak hanya terhenti di gresulo saja namun mengajakku untuk mencari cara supaya mereka bisa keluar dari kegelisahaan tersebut. Terbentuklah kemudian Sekolah Pertanian Rakyat (SPR) yang menjadi wadah pengelolaan pengetahuan bagi warga. Di SPR kami belajar pertanian lestari, analisa sosial, isu desa, media komunitas, dan lain sebagainya. Layaknya sebuah sekolah, ada pengetahuan yang dielaborasi, tersistem, dan ada ruang refleksi. Dalam tiap kelas pembelajarannya, SPR dikemas santai khas pertemuan warga desa.

DKKS

Warga dalam Kelas Pembelajaran SPR

Tak lama kemudian lahir pula Sekolah Anak Petani (SAP) sebagai jawaban kegelisahan generasi petani. SAP adalah sekolah bagi anak-anak petani di sore hari. Di SAP adik-adik usia 6-12 tahun ini belajar pengelolaan pengetahuan ala anak petani berbasis multi media. Sekolah Komunitas SPR dan SAP dalam perjalanannya melibatkan semakin banyak warga dan anak petani di Desa Semoyo. Tak kurang 75 orang warga pernah tercatat  berproses di SPR dan lebih dari 100 anak menjadi bagian dalam SAP.

Anak SAP belajar membuat Wayang Rumput bersama Anak Wayang Indonesia

Anak SAP belajar membuat Wayang Rumput bersama Anak Wayang Indonesia

Pengelolaan pengetahuan di kedua sekolah komunitas tersebut memperkuat pencarian solusi dari kegelisahan warga akan desanya. Keberagaman pengetahuan yang didiskusikan dan pertemuan dengan teman seperjalanan yang makin hari makin bertambah menjadikan tekad perjuangan yang mengkristal. Dalam proses yang bertumbuh tersebut kemudian saya bertemu dengan Suratimin, seorang petani yang kemudian hari menjadi orang yang mampu merubah wajah desanya.

Dalam tulisan berikutnya penulis akan membagikan kelanjutan proses sekolah komunitas hingga munculnya gagasan Desa Kawasan Konservasi Semoyo (DKKS) dan cerita bagaimana Suratimin tunjukan komitmen yang luar biasa. (Bersambung)

Berikan rating: 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)

Tentang Hernindya Wisnuadji

Pegiat inovasi desa. Pecinta branding komunitas. Memulai kegiatan community enpowerment sejak 1998 dan berkesempatan belajar audit sosial di Hyderabad, India tahun 2011.