Home » Artikel » Kisah Sukses » Omzet Besar, Tak Mau Sukses Sendirian
Omzet Besar, Tak Mau Sukses Sendirian

Omzet Besar, Tak Mau Sukses Sendirian

Pasangan suami istri Sumpono dan Ninik Suparyani terlihat kompak. Tekuni bisnis keluarga, bangkit bersama wujudkan mimpi setelah mengalami fase kebangkrutan. Seberapa sukses mereka kini?

Suasana siang di Gading III, Gading, Playen Sabtu (5/1) tak berbeda dari hari biasa. Aktivitas lalu lalang kendaraan Jogja-Wonosari padati ruas jalan. Di antara mereka nampak seorang ibu berkerudung putih turun dari motor, memarkir motor di depan rumah cat warna biru tua. Menyapa Radar Jogja yang sudah menanti pemilik rumah tersebut datang. Dia salah satu bos pemilik usaha Niki Asa Mina, Ninik Suparyani, 40, pengusaha di bidang pencari, dan pemasar serta pengolahan produk makanan siap saji ikan laut spesialis tuna dan tongkol dalam kaleng.

Sarana pendukung usahanya terbilang cukup lumayan. Dua kapal 15 GRT (grows ton), 17 nelayan, urusan dapur tiga orang, dan dibantu tenaga pengiriman 24 jam. Sementara, penghasilan kerajaan bisnis merekapun menggiurkan. Omzet per hari mencapai Rp 12,9 juta.”Sekarang kami juga digandeng pemerintah kerjasama dengan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Gading, Playen, mengalengkan olahan ikan. Coba-coba dulu lah,” katanya sambil menunjukkan beberapa dokumen kerjasama dengan beberapa dinas terkait di Gunungkidul.

Dia mengakui, usahanya memanfaatkan potensi bahari mengerahkan nelayan sekaligus jadi pengepul para pencari ikan lainnya. Niki Mina Asa kemudian menyortir. Hasil sortiran inilah yang mempengaruhi nilai jual. “Ikan tuna per kilogram Rp18.500,’’ terangnya.Sehari, kata dia, mampu menjual hingga 7 kuintal. Ikan-ikan ini memenuhi kebutuhan lokal dan sebagian dikirim luar kota, seperti Jakarta. Ibu dua anak tersebut menjelaskan, selain membesarkan usaha keluarga juga membentuk kelompok ikan tergabung dalam asosiasi pengelola dan pemasaran ikan. “Nama kelompoknya Asa Bahari. Anggotanya 17 orang dari berbagai kecamatan di Gunungkidul,” paparnya.

Ninik mengaku tak mau sukses sendirian. Guru sekolah dasar yang pandao berbahasa Inggris ini ingin mengajak yang lain maju bersama. Salah satunya, dengan adanya kelompok. “Dari pemerintah, setiap anggota mendapat bantuan peralatan usaha,” ungkap ibu bertitel SPd ini.Payung usahanya juga pernah menyabet juara satu UKM pengolahan ikan pada 2010 tingkat kabupaten. Namun Istri Sumpono enggan disebut sukses. “Sukses kan relatif,” ucapnya.Yang terpenting, jatuh bangun dalam dunia bisnis itu biasa. Semoga perjalanan hidupnya menjadi perhatian bagi calon pengusaha lainnya untuk tetap bangkit di tengah keterpurukan. Pada tahun 2000 usaha pertanian bersama keluarga di Piyungan, Bantul gulung tikar. Lalu mereka boyongan ke Bumi Handayani dan berkenalan dengan pengusaha di bidang bahari. “Alhamdulillah, sekarang punya dua kapal 15 GRT, 17 nelayan, tiga tenaga masak ditambah tenaga pengiriman. Insya Allah mimpi kami menembus pasar ikan dunia bisa terwujud,” harapnya.

Sumber

Berikan rating: 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)

Tentang GdHE

Gerakan memaksimalkan potensi dan sumber daya kabupaten Gunungkidul yang didukung semangat masyarakat untuk membangun Bumi Handayani menjadi lebih baik dimasa yang akan datang.