Home » Artikel » Opini Publik » Menyikapi Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik
Menyikapi Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik

Menyikapi Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik

Jenis media massa atau pers yang bisa diakses oleh masyarakat semakin beragam. Tidak lagi hanya media cetak, radio dan televisi. Saat ini media online justru menjadi rujukan pertama ketika masyarakat membutuhkan asupan berita yang serba instan.  Bahkan media massa yang dulu hanya berkutat pada media cetak, kini menggarap serius konten mereka pada media online.

media massa

Berbeda dengan masa orde baru, kini pers memiliki kebebasan yang lebih sehingga bisa meliput dan memberitakan apapun tanpa harus takut ancaman pembredelan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka bisa dengan leluasa mempublikasikan segala berita yang dulu dianggap ‘haram’ oleh pemerintah yang dengan taring diktatornya bisa melakukan apapun termasuk melakukan pembredelan terhadap media yang dianggap merugikan pihak tertentu.  Tentu ini bisa menjadi indikasi positif perubahan iklim demokrasi di Indonesia.  Namun ketika kebebasan itu digunakan tanpa kehati-hatian bahkan terkadang menghalalkan segala cara, pada akhirnya mereka hanya akan meng’industri’kan media yang bertujuan semata-mata mencari keuntungan tanpa memikirkan pihak lain.

Jika pada masa orde baru, kontrol media publik dan pers ada pada pemerintah yang secara otoriter mengarahkan berita untuk keuntungan penguasa, maka pada masa kebebasan pers seperti sekarang ini, kontrol pers pada pemilik media atau pemilik modal.  Disinilah kemudian muncul titik rawan terjadinya penyimpangan kode etik jurnalistik. Pola pikir masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih mudah terpengaruh ditambah dengan persaingan antar media pers yang semakin ketat bisa menjadi alasan untuk menggunakan amanat kebebasan pers tersebut dengan sebebas-bebasnya. Berita apapun akan dipublikasi yang penting bisa memberikan keuntungan. Jika hal ini dilakukan, maka independensi dan idealisme pers bisa tergerus sehingga pers hanya akan menjadi industri yang tak punya nilai di masyarakat.

Pameo “bad news is good news” bisa jadi menjadi hal lumrah bagi media mainstream pada saat ini.  Semakin buruk berita yang dipublikasikan, semakin besar kemungkinan berita itu akan diakses oleh audiens. Seharusnya, kontrol diri seorang wartawan sangat penting untuk memfilter bahan berita yang layak dan tidak layak untuk diangkat menjadi berita.

Pada pasal 1 kode etik jurnalistik disebutkan: Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Penafsirannya:

  • Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.
  • Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
  • Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
  • Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pada pasal 3 disebutkan: Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Sudah disebutkan dengan jelas dalam kode etik jurnalistik bahwa berita harus dan berimbang (cover both sides). Artinya jika konten berita tidak akurat sesuai fakta dan berimbang maka berita tersebut belum layak dipublikasikan.  Pelanggaran atas asas keberimbangan ini bisa menimbulkan kerugian terhadap pihak terkait bahkan berimbas pada masyarakat umum karena terjadi salah presepsi terhadap isi berita. Hal yang lebih besar bisa menjadi polemik berkepanjangan di masyarakat yang bisa saja menimbulkan perpecahan.

Sudah seharusnya hal ini menjadi perhatian khusus bagi insan pers, didalamnya termasuk pemilik modal dan pelaku media terkait termasuk wartawan yang terjun langsung dilapangan agar bisa bekerja dengan profesional tanpa disetir oleh pihak tertentu yang hanya bertujuan untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.  Saatnya merubah ‘bad news is good news’ menjadi ‘good news in good ways’.

Tidak bijaksana jika media massa hanya mencekoki masyarakat dengan berita-berita yang negatif tanpa ada perimbangan berita positif yang secara langsung atau tidak langsung akan membangun pola pikir masyarakat menjadi lebih maju ditengah era penjajahan teknologi yang semakin tidak terbendung seperti saat sekarang ini.

Pranala luar: – Kode Etik Jurnalistik

Tulisan ini tidak mewakili pihak manapun, hanya sebatas pandangan pribadi sebagai masyarakat awam karena saya bukan jurnalis yang belajar secara khusus ilmu jurnalisme.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)

Tentang Arwan

Lahir dan besar di Gunungkidul. Penjelajah waktu yang suka menyeruput kopi.