Home » Profil » Profil Tokoh » Menelusuri Jejak Kesenian Ketoprak di Gunungkidul
Menelusuri Jejak Kesenian Ketoprak di Gunungkidul

Menelusuri Jejak Kesenian Ketoprak di Gunungkidul

Anda pasti sudah tahu kesenian ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak). Jika belum pernah menonton pentas ketoprak secara langsung, setidaknya pernah liat di televisi, youtube atau sekedar lihat fotonya.

Ya, ketoprak adalah salah satu kesenian khas Indonesia yang cukup populer, terutama di Jawa. Ketoprak adalah opera atau sandiwara yang dipadukan dengan iringan musik gamelan serta tembang-tembang Jawa.  Konon, kesenian ketoprak muncul pertama kali pada tahun 1920 yang kemudian populer di Yogyakarta sekitar tahun 1950-an. Selanjutnya dikenal dengan nama Ketoprak Mataram.

Seiring waktu berjalan, seni ketoprak yang dulu populer dan menjadi hiburan menarik bagi masyarakat, kini gaungnya semakin memudar. Entah tergerus oleh infiltrasi budaya modern yang semakin tak terbendung, atau tidak adanya regenerasi yang mau berkiprah dalam kesenian ini.

soetinoLalu bagaimana eksistensi ketoprak di kabupaten Gunungkidul? Untuk menjawab pertanyaan ini, beberapa waktu yang lalu saya mewancarai seseorang yang masih legowo dengan penuh semangat untuk terus berkiprah dalam kesenian ketoprak di Gunungkidul pada era modern seperti sekarang ini. Beliau adalah Soetino Marto Kanthong yang menggeluti seni ketoprak sejak tahun 2005.  Patut diacungi jempol.  Pelaku seni yang tinggal di Dusun Pakwungu, Sumberwungu, Tepus ini terus menggeluti passion yang dipilihnya bahkan ketika sebagian orang memutuskan memilih profesi lain dengan berbagai alasan.

Berikut ini rangkuman hasil wawancara saya dengan bapak Soetino Martho Kanthong.

Sudah berapa lama Anda berkecimpung dalam kesenian ketoprak?

Kurang lebih sebelas tahun, sejak 2005.

Bagaimana perkembangan dan eksistensi ketoprak di Gunungkidul?

Kesenian ketoprak di Gunungkidul saat ini masih eksis. Akhir-akhir ini perkembangannya cukup baik, karena didukung adanya event lomba yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul.

Menurut Anda apakah ketoprak masih perlu dipentaskan dan dilestarikan pada saat era kemajuan teknologi sekarang ini? Apa sebabnya?

Sampai kapanpun sebaiknya tetap dipertahankan. Jika ada hal-hal yang perlu disesuaikan atau dipadukan dengan teknologi, menurut saya sah-sah saja selama roh ketoprak itu sendiri tidak dihilangkan. Karena menurut saya ketoprak tak sekedar tontonan tapi mengandung ajaran nilai-nilai budaya adiluhung.

Pada saat bagaimana atau kapan pentas ketoprak diadakan di Gunungkidul?

Ketoprak biasanya dipentaskan pada event-event budaya seperti Rasulan, hajatan atau event pemerintah seperti lomba dan sebagainya.

Apakah pemerintah memberikan dukungan dan perhatian terhadap seni ketoprak? Kalo iya, seperti apa wujud dukungannya?

Iya, wujud dukungannya dengan mengadakan lomba antar kecamatan, lomba antar desa budaya atau pementasan pada event Festival Kebudayaan Yogyakarta. Selain itu memfasilitasi keikutsertaan dlm Festival Kethoprak antar Kab./ Kota se-DIY.

ketoprak di Gunungkidul

Pada masa sekarang ini, seberapa besar antusiasme masyarakat Gunungkidul untuk menyaksikan pentas ketoprak?

Antusiasme masyarakat masih bagus, terbukti pada acara Rasulan masih banyak dusun/ desa yang mementaskan ketoprak, bahkan ada juga yang mengundang group dari luar daerah.

Apa kendala-kendala dalam melestarikan ketoprak di Gunungkidul?

Kendalanya pada regenerasi, terutama penguasaan bahasa Jawa.

Bisakah seorang pemain ketoprak menggantungkan hidupnya pada seni pertunjukan ini? Sebutkan alasannya!

Tidak. Karena pementasan kethoprak tidak bisa rutin.

Lalu apa yg mendorong Anda terjun ke kancah perketoprakan? Padahal jika dilihat dari pendapatan, bisa dibilang kecil.

Saya senang (berkiprah di kesenian ketoprak), dan tidak memperhitungkan hasil (pendapatan) dari ketoprak.

Apa pesan Anda kepada pemerintah, masyarakat dan pelaku seni ketoprak itu sendiri dalam rangka melestarikannya di Gunungkidul?

Kepada Pemerintah kami berharap bisa mengadakan pelatihan-pelatihan atau workshop tentang ketoprak. Selain itu disediakan sarana pementasan seperti gedung budaya atau gedung kesenian. Kepada masyarakat kami berharap mau memberi peluang kepada seniman ketoprak untuk berkreasi walaupun pementasannya hanya pada event-event tahunan. Kepada seniman ketoprak kami berharap untuk tetap bertahan walaupun mungkin kendalanya akan semakin besar. Selain itu kepada para seniman senior untuk tidak segan-segan menularkan ilmunya kepada seniman muda yang masih pemula.

Demikianlah wawancara saya dengan Den Mas Soetino Martho Kanthong, agar menjadi inspirasi bagi kita, terutama kaum muda untuk turut andil melestarikan budaya tradisional.  Teknologi akan terus ada dan berkembang, namun tidak bijaksana jika kita meninggalkan warisan budaya para pendahulu kita.

Jika para kaum muda ingin tahu dan belajar lebih lanjut mengenai seni ketoprak, silakan menghubungi sekretariat Forum Seniman Kethoprak Gunungkidul yang beralamat di Omah Jowo Resto, Jl. Playen – Sri gethuk Km. 1 Ngunut, Playen, Gunungkidul.

Salam budaya!

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.50 out of 5)

Tentang GdHE

Gerakan memaksimalkan potensi dan sumber daya kabupaten Gunungkidul yang didukung semangat masyarakat untuk membangun Bumi Handayani menjadi lebih baik dimasa yang akan datang.