Home » Artikel » Opini Publik » Kampung Walang Gunungkidul Cyber Community Sebagai Wahana Pembelajaran

Kampung Walang Gunungkidul Cyber Community Sebagai Wahana Pembelajaran

kampung-walang-3

“Belajarlah  seperti Belalang  yang tidak pernah menyerah menghadapi situasi ekstrim”

Walang atau belalang dijadikan ikon baru bagi komunitas dunia maya (cyber community), tepatnya oleh kawula muda masyarakat Gunungkidul Yogyakarta. Walang termasuk binatang yang cukup ekstrim dalam menghadapi situasi apapun sehingga mampu bertahan hidup serta berkembang biak dengan pesatnya bahkan saat ini jadi komoditas alternatif.

Setiap pengguna jalan raya, banyak menjumpai penjual belalang disepanjang jalan dibeberapa wilayah Gunungkidul. Belalang goreng menjadi  cemilan khas untuk konsumsi masyarakat setempat dan dijual kepada para wisatawan yang datang ke Gunungkidul.

Walang dengan segala keunggulan komparatifnya ini diangkat oleh anak anak muda Gunungkidul yang aktif dalam dumay (dunia maya) menjadi wahana pembelajaran bersama, bersosialisasi, berinteraksi serta membangun solidaritas sosial. Tidak tanggung – tanggung ketua organisasi ini berada dari Hongkong, yaitu Sdri Sarjiyem (Sari Gunkid) seorang puteri dari Patuk yang bekerja di Hongkong dengan wakil sekretarisnya Ayoe Rere, bekerja di Taiwan.

Tidak hanya Sari, ada sederet nama lain yang bekerja di Batam dan kota besar lainnya aktif menjadi anggota Kampung Walang Gunungkidul yang disingkat Ka Wal GK,  mereka sangat concern terhadap kemajuan daerahnya sehingga rela mengeluarkan tenaga, pikiran, waktu bahkan biaya untuk berdiskusi melalui jejaring Kampung Walang Gunungkidul.

kampung-walang-1

Gagasan Untuk Kemajuan Gunungkidul

Ada beberapa poin yang menarik untuk dikaji, salah satunya adalah proses pengambilan keputusan disepakati untuk online antara jam sekian sampai jam sekian, mereka sharing mengemukakan pendapatnya masing-masing. Bagi yang tidak aktif dikontak melalui inbox agar mengeluarkan pendapatnya.

Usul yang menarik dari anggota adalah tentang sinergisitas para anggota dibidang entrepreneurship. Mereka mengumpulkan potensi usaha yang ada didesa mereka masing masing untuk diidentifikasi serta didorong untuk maju dan berkembang. Ada juga yang mengusulkan adanya lembaga koperasi dengan iuran pokok Rp. 10.000/anggota dan iuran wajib Rp. 5.000/anggota.

Ada juga pemikiran tentang penanggulangan kekeringan di Gunungkidul. Diusulkan adanya solidaritas anggota serta upaya pembuatan satu embung (telaga di satu desa yang ditanami pepohonan berakar penahan air. Usulan lain yang tak kalah menariknya adalah pembuatan jaringan internet disetiap kecamatan yang dilengkapi perpustakaan dan warung kopi sebagai media interaksi pembelajaran bersama.

Hal yang mengharukan adalah geliat generasi muda Gunungkidul ditengah perjuangan mencari nafkah dinegeri orang tetapi masih berempati dengan persoalan daerah serta peduli terhadap kemajuan daerahnya. Ditengah maraknya manipulasi dengan menggunakan jejaring sosial, masih ada warga masyarakat Gunungkidul yang justru mengoptimalkan jejaring media sosial untuk berinteraksi membangun desanya.

Oleh karena itu, akan sangat luar biasa jika ada salah satu perusahaan telekomunikasi atau penyedia jaringan internet bersedia memfasilitasi jaringan internet disetiap ibukota kecamatan untuk memudahkan para pemuda/pemudi desa serta orang tuanya berinteraksi untuk sekedar melepas rindu menggunakan webcam dengan sanak saudaranya yang sedang berjuang dinegeri orang.

Diharapkan juga pemerintah daerah atau pihak swasta yang perhatian terhadap dunia pendidikan dapat memfasilitasi pengadaan buku perpustakaan, bahkan Perpustakaan Desa harus terus didorong untuk memberikan pembelajaran warga masyarakatnya. Sementara itu aktivis jejaring sosial Kampung Walang Gunungkidul dapat mengadvokasi masyarakat untuk terus belajar dan berinteraksi mengikuti perkembangan jaman sambil menikmati kopi & sajian kuliner khas Gunungkidul yakni walang goreng, thiwul, gatot dll.

Revolusi teknologi ini apabila dibarengi dengan rekayasa sosial (social engineering) secara positif dan sinergis (tanpa ada intervensi kepentingan partai politik tertentu), Insya Allah akan menjadi pembelajaran bagi masyarakat Gunungkidul yang memiliki potensi alam yang eksotik sekaligus memiliki keramahan alamiah anggota masyarakatnya.

Akhirul qalam, semoga dengan gerakan “Bali Wae Nang Gunungkidul” dapat menjadi etos baru bagi masyarakat perantau untuk menyumbangkan tenaga, pikiran & pengalamannya melalui jejaring sosial untuk kemajuan Gunungkidul sehingga pada gilirannya nanti mampu memberi jaminan kesejahteraan bagi masyarakat Gunungkidul dari berbagai komoditas & potensi yang dimilikinya.

Penulis: Heru Wahyukismoyo
Pengampu MK Filsafat Budaya Mataram
Universitas Widya Mataram Yogyakarta
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 3.00 out of 5)

Tentang GdHE

Gerakan memaksimalkan potensi dan sumber daya kabupaten Gunungkidul yang didukung semangat masyarakat untuk membangun Bumi Handayani menjadi lebih baik dimasa yang akan datang.