Home » Potensi » Pariwisata » Yuk Kenali Empat Situs Kuno di Gunungkidul
Yuk Kenali Empat Situs Kuno di Gunungkidul

Yuk Kenali Empat Situs Kuno di Gunungkidul

Gunungkidul saat ini menjadi primadona pariwisata Yogyakarta khususnya, Indonesia pada  umumnya. Gunungkidul saat ini menjadi salah satu Kabupaten yang menjadi tujuan utama para wisatawan. Baik wisatawan domestik pun manca negara. Ditengarai sejak enam tahun terakhir, pariwisata menjadi sumber penghasilan terbesar Gunungkidul. Hal ini disebabkan telah banyak dibuka tempat wisata baru. Selain itu banyak ditemukan tempat-tempat bersejarah yang berakar di Gunungkidul.

Pariwisata Gunungkidul yang menjadi tujuan utama adalah pantai. Pantai di Gunungkidul sangat banyak dan semuanya indah. Dapat dinikmati panoramanya, suasananya, dan dapat menikmati di kedalamannya dengan snorkling dan lain sebagainya. Selain itu Gunungkidul sebagai geopark Indonesia menyimpan kekayaan warisan dunia. Seperti goa, air dalam tanah, gunung purba, sungai purba, dan juga situs candi, serta situs purba.

Situs Candi Plembutan

Salah satu situs yang masih dapat dilihat adalah Situs Candi Plembutan. Secara geografis Situs Plembutan berada di Dusun Timur, Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Sedangkan secara astronomis situs ini terletak di koordinat UTM : UTM 49, X: 0450084  Y: 9119369. Dari arah Yogyakarta, setelah melewati lapangan udara Gading, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta, pada lampu pengatur lalu lintas ambil arah lurus. Tepat di depan kecamatan Playen ambil arah kiri. Kurang lebih 100 meter ambil arah kanan dan ikuti petunjuk arah untuk sampai di Situs Candi Plembutan. Kurang lebih satu kilometer situs telah terlihat.

situs plembutan gunungkidul

Situs Candi Plembutan merupakan bangunan yng diduga sebagai bekas tempat suci agama Hindu yang didirikan  sekitar abad VIII. Situs candi yang tinggal reruntuhan saat ini tertimbun tanah liat berwarna hitam. Sehingga terlihat gundukan setinggi dua meter. Bangunan ini dikelilingi oleh pagar pelindung. Sehingga kita hanya bisa melihat dari luar saja. Namun jika ingin masuk ke dalam area Situs Candi Plembutan harus meminta ijin terlebih dahulu kepada petugas jaga situs.

Situs Candi Plembutan dipetakan sejak tahun 1982. Kemudian dieksvakasi sebanyak dua kali. Eksvakasi pertama adalah pada tahun 1997. Pada eksvakasi pertama ini ditemukan Fragmen Yoni, Fragmen arca berbentuk trisula atribut milik Dewa Siwa, Arca Siwa Maha Guru. Selain itu ditemukan pula mata uang pada jaman VOC dan Hindia Belanda.

Pada eksvakasi kedua yaitu pada tahun 2000 berhasil ditemukan umpak batu, hiasan Ardha Candrakapala, fragmen dengan kelat bahu (keyura), Archa Ganesha, fragmen archa, mata uang VOC dan Hindia Belanda, dan fragmen gerabah.

Berdasarkan informasi, dari hasil eksvakasi tersebut diduga situs ini telah banyak dijarah, terutama bagian sumurannya. Selain itu, dari hasil temuan tersebut diduga kuat bangunan seluas 13 x 13 m tersebut merupakan bangunan suci penganut Hindu, menghadap ke barat. Dilihat dari temuan berupa umpak-umpak bangunan ini pada bagian atap terbuat dari kayu.

candi plembutan

Saat ini situs ini berada pada tanah milik Kasultanan Yogyakarta (Sultan Ground). Situs ini dibagi dalam beberapa tempat temuan. Tempat bangunan utama yang berupa gundukan setinggi dua meter. Pada bagian pinggir bagian barat sebagian batu-batu reruntuhan yang dijadikan satu. Pada reruntuhan ini dibagi menjadi beberapa petak.

Situs Candi Plembutan ini merupakan satu dari situs yang ditemukan di Gunungkidul. Situs yang lain adalah Situs Risan yang berada di wilayah Kecamatan Semin, Gunungkidul. Situs Risan merupakan situs yang masih bisa dibilang utuh. Namun, selain dua situs tersebut masih dua situs lagi yang ditemukan. Situs tersebut merupakan Situs Candi Dengok dan situs purba Sokoliman.

Situs Candi Dengok

Situs Candi Dengok merupakan candi peninggalan kerajaan Majapahit. Sehingga diperkirakan candi ini merupakan candi Hindu. Hal ini ditandai dengan adanya Lingga yang merupakan simbol dewa kesuburuan.

Situs candi Dengok ini berada di daerah Dengok Lor, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta. Jika dari arah Yogyakarta, dari alun-alun Wonosari bisa ambil arah jalan lurus menuju arah Semanu. Setelah sampai Mijahan ambil jala sitn yang sama menuju goa Jomblang dan Kalisuci. Pada pertigaan telaga Jonge ambil kanan dan ikuti arah menuju Dengok. Ketika akan mencapai situs candi Dengok ini agak sulit karena berada di belakang rumah warga. Setelah sampai, di sana akan ditemui situs candi Dengok yang sangat disayangkan tinggal reruntuhan.

candi dengok semanu gunungkidul

Foto: nyariwatu.blogspot.co.id

Dahulu candi ini memiliki arca Nandi dan Durga namun hilang dijarah oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Saat ini tinggal reruntuhan yang berserakan di mana-mana. Di tengah-tengahnya terdapat pohon besar berpagar. Sayang sekali, yang diberi pagar justru pohon besarnya bukan situs candi Dengoknya. Masyarakat juga lebih menganggap ‘wingit’ pohon besar itu dibanding situs candi Dengok.

Akibat kurang terjaga dan kurang terawat, arca di situs candi ini tanpa kepala dan badan. Hanya tinggal kaki saja. Selain itu terdapat lingga, namun lingga ini juga kurang jelas apakah lingga yoni atau lingga semu saja.

Situs Candi Risan

Candi risan merupakan situs candi terlengkap yang ditemukan di Gunungkidul. Diperkirakan candi ini lebih tua dari Candi Prambanan, yaitu dibangun sekitar abad ke-3. Kondisi saat ini dalam kadaan aus sehingga sulit untuk diidentifikasi. Namun menilik peninggalan yang ada di situs candi ini, diperkirakan candi ini merupakan candi Buda. Hal ini bisa dilihat dengan adanya stupa di sana.

Situs candi Risan berada di wilayah Semin, Gunungkidul. Letak situs candi ini berada di atas bukit karst berukuran 13x13m2. Jika kita berjalan dari arah Yogyakarta, setelah melewati alun-alun, ambil arah menuju kecamatan Semin. Setelah sampai di Semin ikuti jalan yang menuju arah Sukoharjo. Ketika berada di wilayah ini sebaiknya banyak bertanya, tersebab belum banyak papan petunjuk arah menuju situs candi ini.

candi risan semin gunungkidul

Foto: heryfosil.blogspot.com

Saat memasuki area candi ini terlihat reruntuhan berbentuk segi empat. Konon, bangunan segi empat ini merupakan pendopo dari candi Risan. Dimana pendopo ini digunakan oleh biksu-biksu sebagai tempat berdoa. Meskipun hanya reruntuhan batu, namun terlihat sakral. Hal ini juga diakui oleh masyarakat, terbukti ketika masyarakat menggunakan batu yang berasal dari candi Risan ini untuk membantu ‘gawe’ sebuah hajatan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagai contoh, ketika batu itu dipakai untuk tungku, air yang dimasak di atasnya tidak akan pernah mendidih sama sekali.

Pada area utama, situs candi Risan masih terlihat agak utuh. Memiliki pintu menghadap ke arah barat. Dengan dua buah makaran di pintu masuk. Meskipun aus namun masih terlihat relief berupa sulur tanaman dan aneka burung. Komponen yang ada pada situs ini antara lain: Makara, Ratna, artefak, dan beberapa batu berukir. Tentunya stupa berada di dalam situs candi Risan ini.

Situs candi ini dipercaya sebagai tempat pelarian orang-orang kerajaan Majapahit yang kala itu berada di sekitar Yogyakarta. Kemudian berlari ke arah Semin, Gunungkidul. Candi Buda ini masih dipercaya sebagai tempat yang keramat dan sakral oleh masyarakat. Masyarakat mempercayai ketika ada burung yang melintas di atas candi ini akan jatuh. Hal ini disebabkan karena candi ini dipercaya sebagai perbatasan antara Surakarta dan Yogyakarta.

Situs candi ini dulu berada di area tanah milik warga masyarakat. Kemudian pada tahun 1982 oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) diambil alih. Situs candi memiliki satu arca asli bernama Awalukitiswara. Dulu sempat hilang selama sembilan bulan di Singapura pada tahun 1984. Setelah ditemukan kemudian di simpan di kantor Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3). Sedangkan arca yang saat ini berada di situs ini adalah arca tiruan saja.

Situs Purba Sokoliman

Situs Purba Sokoliman merupakan situs yang ditemukan di kawasan Sokoliman. Kenapa dikatakan kawasan amsalnya, banyak sekali ditemukan di area sokoliman batu-batu prasejarah atau purba. Situs purba Sokoliman berada di dusun Sokoliman, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Berada pada UTM 49 X: 0461967 Y: 9124758. Situs ini berada di kawasan goa pindul. Goa pindul yang terkenal dengan wisata air yang berada dalam goa.

Situs Purba Sokoliman ini merupakan tempat penampungan beberapa temuan situs yang berada di daerah Sokoliman. Selain itu, di Gunungkidul. ada tempat penampungan situs lain di antaranya Diantaranya Dusun Bleberan, Desa Playen dan Dusun gondang, Desa Ngawis, Karangmojo. Tempat ini berada dalam area kurang lebih 2000m2 berada di sebelah sungai Oyo. Sungai yang biasaya untuk kegiatan rafting, rangkaian dari susur gua Pindul. Hal ini sesuai dengan sifat manusia pra sejarah yaitu mencari tempat yang bisa untuk bertahan hidup, kehidupan mereka sebagai manusia bersifat berburu dan meramu.

situs sokoliman Karangmojo

Situs Purba Sokoliman ini diduga sebagai tempat hunian manusia purba pada tahun 700.000 tahun yang lalu. Hal ini dilihat temuan secara spesifik paleolitik (kapak kalsedon, Obsidian, Batu andesit). Selain itu ditemukan kapak perimbas, semakin menguatkan bahwa manusia purba yang hidup sebagai pemburu dan meramu tinggal di kawasan ini.

Satu hal yang menguatkan adalah tempat ini merupakan salah satu ceruk (rock sheltepr) di Gunungkidul, dimana banyak terdapat gua sebagai tempat tinggal mereka. Ceruk ini juga merupakan tempat yang paling subur di Gunungkidul. Selain Karangmojo, Playen, juga Wonosari merupakan bagian ceruk yang subur untuk kehidupan mereka pada jaman dahulu. Dimana mereka hidup bergantung dari apa yang disediakan oleh alam.

Pada situs ini ditemukan budaya Menhir, menhir, arca menhir, dan peti kuburan batu. Untuk peti kuburan batu yang berada di situs ini berbeda dengan daerah lain seperti Bojonegoro, Kuningan, dan Pasemah. Di sini kuburan berupa sponingen(sistem takikan). Kuburan batu ini dipahat pada bagian muka dan lengan. Biasaya diletakkan di sebelah peti kuburan batu.

Baru-baru ini juga ditemukan satu batu yang sedang masuk data Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala DIY (BP3 DIY). Batu putih yang berbentuk panjang dipahat pada bagian kelapa ini sepanjang kurang lebih 2 meter. Ditemukan oleh warga pada saat sedang menggali kubur di tanah pemakaman. Pada awalnya masyarakat tidak tahu bahwa itu merupakan benda bersejarah, baru dilaporkan dan dilihat ternyata benar benuda bersejarah, Kata Giyo sebagai Koordinator Pengelola. Sayangnya ada sedikit luka karena benda tajam, namun masih bisa diselamatkan. Sejak ditemukan itu kondisi sudah patah menjadi dua secara alami. Diperkirakan karena ada pergeseran tanah sehingga mengakibatkan arca tersebut patah menjadi dua.

patung di situs sokoliman

Sebelum-sebelumnya masyarakat tidak berani memindahkan batu-batu yang banyak ditemukan di kawasan wilayah ini. Konon jika memindahkan atau melangkah di atasnya mengakibatkan hal buruk akan terjadi. Misalnya menjadi gila dan sebagainya. Memang ada beberapa kejadian, masyarakat yang kurang normal, namun hal itu belum diteliti lebih lanjut, apakah mitos itu sebagai hal yang benar atau tidak, disebabkan oleh perlakuan masyarakat terhadap batu tersebut. Namun bisa jadi, karena konon pada jaman dahulu kala, setiap barang diberikan matra-mantra khusus sebagai perlindungan. Wallahualam bisawab.

Banyaknya batu-batu purba yang ditemukan di daerah ini, banyak pula yang dibiarkan oleh warga. Ketika batu itu terlihat sedikit, atau dalam tanah, warga justru akan menimbunnya kembali dan tidak diambil, Lanjut Giyo. Sebagai koordinator dia berkewajiban untuk mendata dan melaporkan kepada BP3. Agar benda purbakala tersebut tidak dibawa oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Di situs ini menampung cagar budaya sebanyak 5 kubur batu, 7 papan kubur, dan 137 batu menhir. Di dalamnya terdapat beberapa gazebo untuk sekadar beristirahat sambil mengamati benda bersejarah ini. Namun sayangnya ada beberapa tiang sebagai simbol sokoliman yang dibuat baru dengan desain baru. Rencananya, akan didirian menhir asli sebagai simbol kepurbakalaan oleh BP3 DIY.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)

Tentang Umi Azzurasantika

perempuan, pendidik, music freak, dan berusaha untuk menjadi seorang ibu yang baik. ingin selalu berbagi, bermanfaat bagi siapapun, semakin ilmu di bagi akan semakin kaya dan bermanfaat. ~biarkan ilmu memandu kalbu~